Showing posts with label BUKU. Show all posts
Showing posts with label BUKU. Show all posts
ini adalah sebuah kisah yang saya pungut dari salah satu bab di dalam buku kisah Abarat karya clive barker




Malingo melangkah ke tengah hujan yang hangat. Finnega sedang berdiri beberapa meter dari rumah, wajahnya tengadah menentang hujan lebat. Sejenak dia menoleh pada malingo, kemudian meneruskan mandi hujan.
            “kau tahu legenda tentang jam ini?” tanyanya.
            “tidak, rasanya tidak,” sahut malingo.
            “konon di suatu tempat di Nonce (meski aku belum pernah melihat mereka) ada sebuah suku makhluk bersayap, namanya fathathai. Mereka bangsa yang lembut dan pemalu: hampir-hampir seperti malaikat. Jumlah mereka di pulau ini sedikit sekali, sebab” –dia menunduk memandangi kakinya—“sebab mereka tidak mudah cinta, jadi jarang sekali makhluk fathathai melangsungkan pernikahan. Tapi, menurut legenda, ada salah satu makhluk ini, namanya numa child, yang mengalami jatuh cinta.”
            “beruntung sekali dia.”
            “yah, ya dan tidak. begini, dia jatuh cinta pada seorang wanita yang dijumpainya di Nonce ini, namanya elathuria. Di matanya, wanita itu adalah yang tercantik yang pernah dilihatnya. Hanya saja ada satu masalah.”
            “apa itu?”
            “wanita itu bukan darah dan daging seperti dia.”
            “lalu dia itu apa?”
            “seperti kau ketahui, pulau ini dihuni beberapa makhluk hidup yang sangat aneh. Dan elathuria adalah salah satu keanehan itu.” finnegan diam sejenak, kemudian menatap malingo dan berkata, “dia tanaman.”
            Malingo ingin tertawa, tapi berhasil menahan diri karena melihat mimik sangat serius di wajah lelah si pembunuh naga. Dan meski ia berhasil menahan tawa, tetap saja finnegan berkata, “kau pikir aku bercanda.”
            “tidak...”
            “aku Cuma belajar dua hal dalam hidupku. Satu, cinta adalah awal dan akhir dari segala makna. Dan dua, perwujudan apapun yang diambil jiwa kita dalam perjalanan ini, intinya tetap sama. Cinta adalah cinta. Adalah cinta.”
            “malingo mengangguk. “aku tidak punya... pengalaman pribadi tentang ini,” katanya pada finnegan. “tapi... aku sudah membaca banyak buku. Dan semua buku yang bagus itu menyatakan hal yang sama denganmu.” Finnegan mengangguk, dan untuk pertama kali sejak mereka bertemu, malingo melihat seulas senyum samar di wajah laki-laki itu. “tolong lanjutkan kisahnya,” kata si geshrat.
            “nah, waktu numa child pertama kali bertemu elathuria, dia sedang mekar sempurna. Dia tak bercacat cela. Tak ada kata lain untuk menggambarkannya.”
            “luar biasa.”
            “situasinya semakin aneh, percayalah. Sudahkah kuceritakan bahwa numa child jatuh cinta dalam sekali debar jantung? Maksudku, secara harfiah, memang secepat itu. dia melihat elathuria, dan terjadilah. Nasibnya telah ditentukan.”
            “cinta pada pandangan pertama.”
“tepat sekali.”
“kau percaya itu bisa terjadi?”
“oh tentu. Aku sendiri mengalaminya. Begitu melihat putri boa, aku tahu aku takkan pernah bisa mencintai orang lain. tak ada, hingga akhir jam-jam.” Finnegan menegadah memandang hujan yang mulai reda. Dia menjilat beberapa tetes air hujan dari bibirnya, kemudian meneruskan ceritanya.
“maka pada saat itu juga numa child berkata pada elathuria. ‘lady’ katanya. ‘aku takkan pernah mencintai siapapun seperti aku mencintaimu.’ Dan dia sangat heran ketika elathuria meminta dia mengecupnya.
“’cepatlah,’ kata elathuria. ‘sebab matahari begitu panas dan jam ini akan berlalu.’
“numa tidak memikirkan maksud perkataan itu. dia sudah cukup senang diminta mencium kekasihnya. Dan sementara mereka berciuman dan bercakap-cakap dan berciuman lagi, jam di Nonce berdetak berlalu...”
“akhir kisahnya tidak bahagia ya?” kata malingo.
Finnegan tidak menjawab. Dia melanjutkan ceritanya. “ketika numa menciumnya lagi, bibirnya terasa agak pahit.”
“’apa yang terjadi’ tanya numa padanya.
“dia memberitahukan, ‘waktunya telah berlalu, kasihku.’
“dan dengan terperanjat numa melihat bahwa bunga-bunganya yang tadi begitu cerah dan cantik ketika dia pertama melihatnya, kini mulai memudar, daun-daunnya yang hijau mulai berubah kuning dan coklat.”
Ketika menceritakan bagian ini, mata finnegan menjadi lembut dan penuh kesedihan.
“akhirnya elathuria berkata padanya,’jangan tinggalkan aku, sayang. Berjanjilah kau takkan pernah meninggalkanku. Temukan aku lagi, kemanapun aku pergi. Temukan aku.’
“tentu saja numa tidak mengerti maksud ucapan itu. ‘apa maksudmu?’ tanyanya.
“tapi dengan segera maksudnya menjadi jelas. Elathuria akan meninggalkannya. Angin bertiup semakin kencang, mengguncang-guncangnya, seperti mengguncang-guncang pohon, sehingga bunga-bunga hingga daun-daunnya berguguran, dan keindahannya tersapu pergi. Itulah yang terjadi pada elathuria. Dia mulai kehilangan eksistensinya di depan mata numa. Menyedihkan.”
Malingo mendengar nada tercekat dalam suara finnegan, dan ketika dia memerhatikan, tampak air mata mengalir di kedua pipi finnegan.
“elathuria masih cukup kuat untuk berbicara pada numa. ‘carilah dimanapun angin bertiup,’ katanya, suaranya makin lama makin sayup. ‘aku akan tumbuh kembali dari biji yang terbawa angin dari tempat ini.’
“numa tentu saja bahagia mendengarnya, tapi pikirannya dipenuhi tanda tanya dan keraguan.
“’apakah yang akan tumbuh lagi itu benar-benar dirimu?’ tanyanya.
“’ya’ sahut elathuria. ‘yang akan tumbuh lagi itu benar-benar diriku, dalam setiap detailnya. Kecuali satu.’
“’apa itu?’ tanya numa.
“’aku takkan ingat padamu,’ sahutnya.
“Sementara dia berkata demikian, angin kencang berembus dan mengguncangnya dengan keras, sehingga dia terkoyak-koyak sepenuhnya...”
“oh,” kata malingo. “Apakah dia lenyap?”
“hmmm.... ya dan tidak. angin telah menyebarkan biji-bijinya hingga jarak yang cukup jauh, tapi numa bertekad menemukan jejaknya—jejak apapun—maka dia mencari seperti orang kalap, tak mau beristirahat sampai pecariannya membuahkan hasil.
“akhirnya, setelah lama mencari-cari, dia menemukannya, tumbuh di tempat baru. Dia belum tumbuh sempurna, tapi numa mengenalinya, dan jatuh cinta lagi padanya, persis seperti waktu pertama kali.”
“Dan dia dengan numa?”
“ya, tentu saja.”
“meskipun dia tidak mengingat numa?”
“ya. Bagaimanapun, jiwanya tetap sama. Begitu pula numa...”
Kini malingo mulai memahami maksud cerita tersebut. bukan suatu kebetulan bahwa finneganlah yang menceritakan kisah itu padanya, bagaimanapun, finnegan berada di pulau ini karena ia telah kehilangan jantung hatinya. Bisa dimengerti kalau legenda ini sangat mengena bagi imajinasinya.
“jadi, sejarah berulang kembali?” kata malingo.
“benar sekali. Bukan hanya satu kali, tapi berulang-ulang. Meski numa bersumpah setia selamanya pada elathuria, jam itu akan tetap berlalu, angin akan selalu datang dan diapun dibawa terbang ke tempat lain. kadang-kadang numa berhasil menemukannya dengan cepat, kadang-kadang tidak.”
“dan kau benar-benar percaya mereka masih ada di luar sana, saling mencintai, lalu terpisah lagi, dan saling menemukan lagi, namun kemudian berpisah lagi?”
“ya, aku percaya,” sahut finnegan.
“betapa menyedihkannya hidup seperti itu.”
Finnegan menimbang-nimbang ucapan itu sejenak. “cinta mempunyai tuntutan-tuntutannya sendiri, dan kita mendengarkan. Kau tidak bisa tawar menawar dengannya. Kau tak bisa melawannya. Tidak bisa, kalau cintamu cinta sejati.”
“apakah yang kau bicarakan ini masih tentang numa child dan elathuria?” tanya malingo.
Finnnegan menatapnya. “ aku bicara tentang semua kekasih,” katanya.




sponsored by
  

#TrenSosial: Aksi armada pustaka di Polewali Mandar

  • 24 Agustus 2015

Image captionRidwan Alimuddin di perahu pustaka.

Berawal dari inisiatif perahu pustaka, Ridwan Alimuddin kini menggagas becak dan motor pustaka di Polewali, Mandar, Sulawesi Barat.
"(Saya keliling dengan) becak setiap hari di pagi hari, ketika jam-jam sekolah anak-anak keluar main. Pasti ada kelas yang kosong," katanya kepada BBC Indonesia.
"Banyak yang berpendapat minat baca di Indonesia kurang. Tetapi selama saya jalan, pendapat itu terbantahkan, saya berpendapat yang tidak ada itu fasilitas."
"Bayangkan kalau saya bawa becak, anak-anak itu berebutan buku, setengah jam saya di sana, penuh terus becaknya."
Ridwan mengatakan ide membuat becak muncul setelah dia dan Nirwan Ahmad Arsuka menginisiasi perahu pustaka yang rencananya akan berlayar ke pulau-pulau untuk menyediakan bacaan bagi anak-anak.
"Beberapa minggu ini perahu belum berlayar. Rencananya minggu ketiga dan keempat Agustus baru mulai."
"Saya buat becak karena saya berpikir: masa saya jangkau pulau-pulau kecil tapi lingkungan saya sendiri tidak dikasih bacaan."

Image copyrightRIDWAN ALIMUDDIN
Image captionBecak pustaka beroperasi tiap pagi, mengunjungi sekolah-sekolah.
Image copyrightRIDWAN ALINUDDIN
Image copyrightRIDWAN ALIMUDDIN

Selain becak, Ridwan juga memanfaatkan motor tua untuk dijadikan perpustakaan keliling di wilayah pegunungan.
"Kebetulan kecamatan tempat tinggal saya, memiliki beberapa desa di bukit. Itu hanya bisa dijangkau pakai motor."

Image copyrightRIDWAN ALIMUDDIN
Image captionMotor pustaka, gagasan paling baru yang dicetus Ridwan, untuk desa-desa di pegunungan.
Image copyrightRIDWAN ALIMUDDIN

Menurut UNESCO, Indonesia telah membuat langkah besar untuk mengurangi buta huruf dalam beberapa tahun terakhir. Angka buta huruf turun dari 15,4 juta pada 2004 menjadi 6,7 juta pada 2011.
Sebelumnya, dalam wawancara dengan BBC, Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Penerbitan Indonesia (IKAPI), Setia Dharma Madjid, mengatakan minat baca naik di kalangan pedesaan namun daya beli menjadi hambatan besar.
Selain Ridwan, ada juga rekannya Muhammad Rahmat, 42, yang menggagas bendi pustaka.
Kepada BBC Indonesia, Rahmat mengatakan beroperasi tiap hari minggu sore berkeliling di desa-desa. "Saya lihat bendi sudah sangat jarang digunakan, karena digantikan becak dan ojek. Padahal dulu waktu saya kecil, banyak sekali bendi," katanya.
Nantinya, Rahmat yang aktif di Yayasan Kebudayaan Akar berharap bahwa gerakan sastra di Polewali Mandar bisa terus berkembang dengan kegiatan lain, seperti mendongeng atau diskusi buku.

Image copyrightRIDWAN ALIMUDDIN
Image copyrightRIDWAN ALIMUDDIN
Image captionBendi pustaka diperuntukkan bagi perjalanan-perjalanan jauh lintas kecamatan.  
sponsored by
  

Bermula dari pelbagai cakap Eka Kurniawan tentang menulis dan selalu menyebut Knut Hamsun, maka saya pun terpantik membaca novel Hunger dan Victoria. Tapi selepas membaca keduanya, saya bertanya-bertanya, kenapa Knut Hamsun begitu pesimistis akan kehidupan penulis?


Baiklah, kita akan mencoba melihatnya:

Pada novel yang pertama, Hunger (diterjemahkan menjadi Lapar oleh penerbit Obor), Knut Hamsun melukiskan seseorang yang berusaha hidup dari menulis. Ia menulis artikel, cerita dan pelbagai jenis tulisan lainnya untuk bisa bertahan hidup. Tentu dengan ragam risiko dan konsekwensi sebagai bentuk kerja.

Hmm, apa kabar teman?
Semoga anda selalu sehat selalu.
terima kasih kalian sudah menjadi kawan baik untuk blog yang tidak bagus ini.

Seperti judul postingan ini -Sayonara- saya ingin mengucapkan sebuah salam perpisahan.
Karena, suatu hari pasti akan datang masa dimana saya tidak akan muncul lagi di blog ini selama-lamanya, untuk menuliskan segala sesuatu tentang persoalan Bumi Manusia ini.

Seperti tertulis dalam deskripsi profil saya, saya adalah seorang penjelajah waktu dari masa depan. Dan sebagai seorang penjelajah waktu, saya tidak bisa untuk tinggal di masa ini selamanya. Meskipun sebenarnya saya sangat menginginkannya (tetap tinggal).
Sekali lagi, saya sebenarnya masih ingin tinggal.

Setiap manusia yang hidup di bumi ini hanya melakukan perjalanan, sama seperti saya.
Suatu saat mereka akan kembali ke tempat asalnya dengan cara melalui kematian.
Begitu pula saya, suatu saat saya akan kembali ke masa di mana saya seharusnya.
Dan bisa dikatakan kalau saat-saat saya harus kembali sudah dekat.
Mungkin hanya beberapa tahun lagi, atau bahkan beberapa bulan lagi.
Saya akan tahu setelah melakukan konsultasi dengan seorang Dr. untuk memastikan kapan saya harus pergi dari masa ini.

Tapi sebelum saya pergi, saya berharap bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya belum pernah saya lakukan.
Dan yang terpenting saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting dan harus saya katakan kepada beberapa orang sebelum waktu saya habis.
Semoga saya bisa menyampaikannya dalam waktu dekat ini.

Jangan bersedih seperti itu...haha...
Saya hanya ingin kalian tidak terkejut ketika saya tiba-tiba mendadak menghilang. seperti hantu.
Saya akan meninggalkan blog ini sebagai warisan. sebuah warisan yang akan mengingatkan kalian kepada saya.
Tentunya saya berharap kalian mengenang saya sebagai manusia yang baik.
untuk menikmati blog ini, saya sarankan anda sambil mendengarkan beberapa lagu yg saya rekomendasikan salah satunya lagu yang dibawakan rie fu - life is like a boat ("Ost" blog ini...eheh)

Inilah hidup. Saya sudah terbiasa menghadapi keadaan di Bumi Manusia dengan segala persoalannya. keadaan yang pelik dan pahit ini sudah  menjadi seperti coklat di pagi hari yang di seduh seorang kekasih.

ya, itu yang ingin aku sampaikan.
semoga kelak saya bisa kembali lagi ke masa ini.

Terima kasih untuk segalanya, Pertemanan, Persahabatan, Keceriaan, Pengertian, Kebaikan, Ketulusan dan segala hal baik lainnya.

Terima kasih
Sahabatku untuk selamanya.
Peluk penuh cinta.

M.F. Hazim











sponsored by
  



KOMUNITAS JENDELA



Sedekah Ilmu Lewat Berbagi Buku Juga Bisa Bikin Kaya



MALANG - Jika pada umumnya orang memilih menyumbangkan uang atau keperluan sandang pangan kepada anak-anak di Yayasan Kesejahteraan Sosial Anak (istilah pengganti panti asuhan), bagi Ahmad Fajarisma Budi Adam (27) itu terbilang biasa.
Baginya, menyumbang dalam bentuk materi tidak memiliki "umur" panjang. Maka dari itu, pria asal Banyuwangi itu memiliki cara lain dalam berbagi dengan kesan yang "abadi". Fajar, panggilan akrabnya, memilih berbagi ilmu lewat cara berbagi buku.
"Tak hanya sepeser uang yang kita bagikan, sebuah ilmu dalam wujud buku adalah sedekah yang dapat menjadikan kita kaya sejatinya," terang Fajar.
Penjual Jamu Itu Ingin Racuni Pembelinya dengan Buku







SIDOARJO - Senin (18/5/15) sekitar pukul 06.00 WIB, Muhammad Fauzi (23) tampak sibuk mengisi jamu ke botol plastik bekas kemasan air mineral. Dibantu istrinya, Imroatul Mufida (28) ia menyusun botol berisi jamu itu ke rak kayu yang sudah terpasang di jok motornya.
Pria yang akrab disapa Fauzi ini sudah lebih dari sepuluh tahun berjualan jamu. Namun, Fauzi tak sekadar berjualan jamu. Pria lulusan SMP ini membagikan ilmu secara gratis lewat buku.
berikut ini saya posting gambar tentang karakter anime yang sedang membaca buku, setiap posting berisi 10 gambar (jangan lupa dibuka satu-satu ya), terdiri dari :
1. kakashi hatake
2. sakura haruno
3. sasuke uchiha
4. uzumaki naruto
5. nico robin
dan karakter anime lainnya















sponsored by